Perjalanan wisata ke Yogyakarta selama enam hari ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya sebagai seorang guru. Perjalanan dimulai dengan naik kereta api pulang-pergi, pilihan transportasi yang memberi ruang untuk merenung, membaca, dan menikmati waktu tanpa terburu-buru. Setibanya di Yogyakarta, saya membawa motor sendiri sebagai sarana utama mobilitas, karena bagi saya, menyusuri kota dengan motor memberikan kebebasan sekaligus kedekatan dengan suasana lokal yang tidak tergantikan.
Hari-hari awal di Yogyakarta
saya manfaatkan untuk menikmati denyut kota yang selalu hidup. Malioboro
menjadi tujuan utama, tempat bertemunya wisatawan dari berbagai daerah dengan
pedagang lokal yang ramah. Saya berjalan menyusuri trotoarnya, menikmati
suasana sore hingga malam, lalu melanjutkan ke Titik Nol Yogyakarta. Di sana,
saya menyaksikan harmoni antara bangunan bersejarah, seni jalanan, dan
percakapan hangat antar manusia—sebuah pembelajaran sosial yang nyata di luar
ruang kelas.
Kunjungan ke Candi Prambanan
menjadi momen reflektif tersendiri. Di hadapan bangunan megah peninggalan
sejarah tersebut, saya kembali diingatkan tentang pentingnya ketekunan, kerja
sama, dan visi jangka panjang—nilai-nilai yang juga selalu saya tanamkan kepada
peserta didik. Dari Prambanan, perjalanan dilanjutkan ke Obelix Hills,
menikmati panorama senja dari ketinggian. Langit yang perlahan berubah warna
seolah mengajarkan bahwa setiap proses memiliki keindahannya sendiri.
Menggunakan motor, saya
kemudian melanjutkan perjalanan ke Gombong, kampung halaman yang selalu
menghadirkan rasa rindu. Perjalanan darat ini penuh cerita—melewati jalan
panjang, desa-desa yang asri, dan suasana pedesaan yang menenangkan. Meski
melelahkan, perjalanan ini menguatkan kembali ikatan batin saya dengan tanah
kelahiran, tempat nilai-nilai kehidupan pertama kali saya pelajari.
Di sela perjalanan, saya
menyempatkan diri ngopi di Oemah Dhuwur, sebuah tempat yang menghadirkan
ketenangan sekaligus kehangatan. Secangkir kopi dan suasana yang sederhana
menjadi ruang refleksi, mengingatkan saya bahwa kebahagiaan sering kali hadir
dalam bentuk yang sangat sederhana. Tak lupa, saya menikmati bakmi Jawa dengan
legen yang khas—rasa tradisional yang selalu membawa kenangan masa lalu.
Perjalanan ini tidak selalu
mulus. Hujan turun deras di beberapa titik perjalanan, membuat pakaian basah
dan jalanan licin. Bahkan, ada satu momen ketika motor yang saya gunakan sempat
mogok di tengah perjalanan. Namun, dari situ saya belajar kembali tentang
kesabaran, solusi, dan pentingnya saling menolong. Beberapa warga sekitar
dengan sigap membantu, menunjukkan bahwa nilai gotong royong masih hidup dan
nyata.
Kehujanan dan motor mogok
tidak mengurangi rasa bahagia, justru memperkaya cerita perjalanan ini. Yang
paling berharga adalah kesempatan untuk bersilaturahmi dengan saudara di
kampung halaman. Percakapan sederhana, canda, dan doa bersama menjadi penguat
batin sebelum kembali menjalani rutinitas sebagai pendidik. Silaturahmi
mengajarkan saya bahwa relasi manusia adalah sumber energi yang luar biasa.
Enam hari perjalanan ini bukan
sekadar wisata, tetapi juga perjalanan pembelajaran. Sebagai guru, saya
menyadari bahwa pengalaman hidup di luar kelas adalah bahan ajar yang autentik.
Dari kereta, motor, hujan, hingga tawa bersama keluarga, semuanya menjadi
pelajaran berharga tentang kehidupan. Yogyakarta dan perjalanan pulang ke
Gombong telah memberi saya cerita, makna, dan semangat baru untuk kembali
mengajar dengan hati yang lebih penuh.
Kisah Inspiratif Eko Priyono









.jpeg)






